Tengku Ryo Riezqan, with his talent and universal mind,combined many genre of music into the Malay music, for further existances in the worldwide.
A violinist who dedicated his work for building style from his own root.
TENGKU RYO: RUH MUSIK SAYA TETAP MELAYU..
Tonggo Simangunsong
[Dengarkan musik Tengku Ryo di themalay.com. Awas tertukar kakinya, Pak Cik... ]

Tengku Ryo, 32 tahun, violis asal Medan ini belakangan lebih dikenal sebagai pemusik etnik karena kerap membawakan musik etnik Melayu dalam berbagai perhelatan musik, mulai Java Jazz, Hitam Putih World Music, Riau, dan bersama grupnya The Malay (kini Tengku Ryo and the Malay), November lalu berhasil mengharumkan nama Indonesia setelah meraih predikat Best Performer pada Festival lagu-lagu Nelayan se-Dunia di Zhou Zhan – China.
Salah satu debutnya ialah “Journey to Deli” yang menjadi salah satu hits kompilasi “Indonesia Beauty”, yang diproduseri Viky Sianipar, dirilis dua tahun lalu. Musik ini bercerita tentang identitasnya sebagai “anak melayu” perantau, yang tak boleh lupa kampung halaman, katanya.
Kepada The Muse, violis bernama lengkap Tengku Ryo Riezqan ini, berbicara panjang lebar; mulai perkenalannya dengan biola, pandangannya tentang musik etnik, hingga keinginannya untuk tampil di Medan. Berikut petikan wawancaranya, via email, baru-baru ini.
Bagaimana awalnya mengenal musik?

Saya sudah mengenal musik sejak kecil dari ayah (engku) saya yang suka menyanyi, bermain harmonika dan suling. Namun, sebenarnya, saya tidak begitu tertarik dengan harmonika, tapi lebih suka seni rupa seperti melukis, menggambar dan membuat patung.
Ketika sekolah di SMP Pertiwi Medan, saya baru mulai memainkan suling decoder, pianika dan gitar karena saat itu musik termasuk pelajaran yang sangat penting. Pada saat ujian, murid biasanya disuruh bernyanyi di depan kelas. Tapi, daripada bernyanyi di depan kelas mending saya disuruh terjun bebas saja. Dari situ akhirnya saya mati-matian belajar gitar. Saya mulai tertarik gitar flamenco ketika kursus musik di Medan Musik, Kampung Madras.
Saya mulai tergila-gila main gitar. Namun, sejak sekolah di SMA Dharmawangsa, Medan, saya mulai bosan dengan gitar klasik dan partitur. Mulai mengidolakan Yngwie Malmstein dan gitaris flamenco Paco De Lucia. Rajin ikut festival band keliling Medan dengan musik bergenre Heavy Metal, seperti Halloween, Iron Maiden dan Metallica.
Saya ingin sekali punya gitar elektrik tapi tak pernah dibelikan, ha…ha…ha. Akhirnya, pinjam sana-sini. Saya memutuskan keluar dari Medan Musik karena saya lebih senang bermain rock ketimbang klasik. Guru gitar pertama saya, bang Indra, orang Helvetia. Dari dia saya tahu teknologi sound efek dan cara baru penulisan musik tablature.
Suatu saat, saya mendengarkan musik Yngwie, dan menilik-nilik inlay kasetnya yang selalu memberikan special thanks kepada Nicollo Paganini sebagai sumber inspirasinya. “Siapa pula si Paganini ini,” pikir saya waktu itu.
Saya lalu mencarinya dan menemukan kaset bekas Paganini yang dijual di Titi Gantung, “24 Caprices by Midori”. Alangkah takjubnya saya begitu mendengar kaset itu! Seluruh skill, artikulasi, ekspresi Yngwie ada di sana, yang dimainkan hanya dengan satu biola!
“Ini yang aku mau!“ Sejak itu suara biola selalu ada di kepalaku. Setelah tamat SMA, saya ke Bandung, mulai mempelajari musik tradisi, Bluegrass, Ragtime, dan Blues. Juga, Cajun dan Celtic/ Irish Music. Saya pun mulai tertarik dengan musik Gypsi, India, Mediteranean hingga Avant Garde.
Sejak itu, Anda bertekad jadi pemain biola?
Proses tadi akhirnya membentuk saya dengan gaya sendiri dalam menginterpretasikan musik. Saya memilih biola menjadi major instrument saya. Frekwensi, vibrasi dan magisnya membawa saya kepada lautan musik yang tidak terbatas.
Banyak pemain biola yang kebanyakan bermain musik-musik klasik dan bergabung dengan ansambel atau orkestra. Tapi, Anda ternyata lebih tertarik untuk bermusik di jalur tradisional, mengapa begitu?
Sebetulnya saya bukan pemain musik tradisi, kalau memang harus bicara dalam sekat-sekat musik. Saya suka dan senang memainkan musik klasik, irish, country, jazz dan lain lain. Semua memiliki keindahan dan keunikan masing masing. Tetapi, ada saat saya masuk ke dalam diri saya yang paling dalam dan tidak bisa menampik tentang siapa saya. Apa yang mengalir dalam darah saya. Udara, air, makanan, bunyi, bahasa, etika, budaya yang saya nikmati sejak pertama kali, saat lahir dan dalam proses pembentukan fisik dan mental dasar saya adalah sebagai manusia Melayu.
Dendang dan pantunnya tersimpan baik dalam ingatan, grenek dan cengkoknya mengalir di darah dan dipermukaan lidah saya. Pada akhirnya, itulah ruh saya. Jadi, saya tidak memilih untuk menjadi pemusik tradisi atau modern. Saya hanya biarkan sesuatu dalam diri saya muncul ke permukaan.
Apa makna musik etnik bagi Anda?
Musik etnik adalah musik yang memiliki karakter tersendiri dan berasal dari identitas suatu budaya masyarakat dengan segala pakem dan tata cara memainkan atau menampilkannya.
Apakah etnic music dan world music itu memiliki pengertian yang sama bila ditilik dari perspektif etnomusikologi?
Saya bukan etnomusikolog. Jadi, saya tidak berkompeten untuk menilai apakah musik etnik dan world music itu sama atau tidak. Ha-ha-ha…
Etnomusikolog dan musisi seperti Irwansyah Harahap dan Ben Pasaribu misalnya, lebih setuju kalau world music disebut sebagai trans-cultural music saja, kalau Anda?
Bang Irwansyah Harahap dan bang Ben Pasaribu itu mungkin benar, agar paradigmanya lebih mengerucut lagi. Sehingga, baik dari praktisi maupun penikmatnya bisa lebih mengukuhkan jati diri mereka. Menurut saya itu tidak ada bedanya karena seluruh musik di muka bumi ini tidak ada yang berdiri sendiri. Seasli apapun itu katanya, kalau mau ditilik dan berani mengakuinya, semua sudah ber-trans cultural, dan semua itu terjadi di seluruh dunia.
Menurut Anda, apakah pelabelan world music kepada etnic music akan terasa seperti merendahkan, seperti yang dikatakan beberapa musisi etnik?
Terkadang rasa memiliki kita itu terlalu tinggi sehingga suka beda tipis dengan egosentris atau ethnical ego secara jamak. Saya melihat pelabelan dengan menggunakan kata world music tidak ada salahnya dengan itu. Kalau kemudian para si empunya musik asli kurang menerima dan merasa memilik hak milik mutlak atas musik asli mereka (ethnic music), sehingga tidak rela orang di belahan bumi mana merasa ikut memiliki, itu cerita lain. Musiknya menjadi sempit dan pasti akan hilang.
Salah satu musisi yang cukup keras menentang istilah world music adalah David Byne. Kritik tajamnya ia kemukakan dalam artikelnya “I Hate Wold Music” yang diterbitkan di harian The New York Times, 3 Oktober 1999.
Menurut saya, keberatan David Byne dengan hadirnya kata world music, karena dia menganggap kata itu menyesatkan konsumen. Ini lebih kepada strategi industri saja. Ia kan seorang produser dan memiliki label rekaman. Sudah pasti dia sangat kebakaran janggut, ha-ha-ha…
Bagaimana Anda melihat eksistensi musik etnik saat ini, khususnya musik Melayu?
Sangat memperihatinkan. Tapi saya yakin itu tidak akan hilang selama masih ada manusia yang lahir di bumi pertiwi kita ini. Untuk bisa berkembang memang perlu dipertanyakan tapi harus tetap diperjuangkan.
Musik tradisi Melayu adalah salah satu contoh musik trans cultural, dipengaruhi dari berbagai budaya bangsa lain dalam segala segi dan aspeknya, tetapi melalui proses panjang. Semua pengaruh itu telah teramu menjadi musik made in Melayu. Ada Senandung, Mak Inang, Joget, Zapin, Lagu Dua dan lain-lain.
Musik Melayu hingga saat ini tetap eksis walaupun masih dalam skala yang tidak intens. Karena itu harus dikembangkan, diadaptasi, ditransformasikan, diinformasikan seluas-luasnya oleh masyarakat, dunia ini penuh dengan aturan main. Kalau tidak mengikuti itu cepat atau lambat pasti akan didiskualifikasi. Nah, untuk itu kita harus mau terus melakukan inovasi yang acceptable dan workable terhadap budaya kita.
Siapa yang menginspirasi Anda untuk bermusik di jalur musik etnik?
Said Effendi, beliau memiliki karya yang luar biasa yang tidak lekang sampai detik ini. P.Ramlee, seorang entertainer sejati dan tahu betul memanfaatkan kelebihannya. Ravy Shankar, pencapaiannya dalam bermusik hingga ke titik spiritual adalah sebuah perjuangan yang luar biasa. Begitu pula sang Sufi Hazrat Inayat Khan, seorang pemain vina yang mampu mentransformasikan nilai spiritual musik ke dalam ulasan yang begitu nyata untuk dipahami. Nicollo Paganini, pencapaian teknikal dan strategi pengkarakterannya telah mampu mencuri perhatian seluruh masyarakat Eropa pada era Romantik, era di mana seluruh pencapaian teknikal musik baik praktek maupun teori mencapai puncaknya.
Dan tak lupa, penyanyi senior Melayu yang sangat saya idolakan dan hormati, Ibu Nur Ainun. Ia memiliki suara emas yang mampu bernyanyi tanpa tendensi difragma, begitu mengalir dan unik. Semoga beliau dalam keradaan sehat wal’afiat.
Bagaimana awalnya band The Malay dibentuk? Dan siapa yang menggagasnya?
The Malay saya gagas dan bentuk pada awalnya karena rasa kepedulian untuk melestarikan musik Melayu, tapi idealisme saya waktu itu bukan hanya lestari tapi berkembang.
Gagasan ini kemudian disambut oleh abang saya Tengku Irham Kelana. Ia membentuk Malay Management. Beberapa musisi tradisi, anak Medan yang menetap di Jakarta ikut bergabung, Chairulsyah alias Buthonk Akordeon, Ahmad Fauzi alias Ade Gendang dan bah Dharmansyah (penyanyi melayu) dan beberapa kumpulan kesenian lainnya.
Mengapa menggunakan kata Malay?
Malay (baca: Bahasa Inggris) berarti untuk seluruh orang Melayu tanpa pandang bulu. Kalau soal cepat atau tidak dikenal, itu bukan tujuan. Tapi, menjadi wadah pemersatu. Karena sudah cukup kita terus hidup dalam rangka berpikir yang tersekat walaupun ada istilah “teluk belanga sama, roti jala dan kari kambing sama”. Malay tidak mau bicara Indonesia, Malaysia, Brunei atau apa pun, apalagi hanya dalam batasan daerah Medan, Riau, Kalimantan, Langkat, Serdang, Asahan, atau Deli. Yang ada hanya satu: Melayu.
Bisa cerita sekilas soal festival di China, November lalu?
Festival di Zhousan City China berawal dari informasi organisasi CIOFF (Organisasi Folklore Internasional) yang memberikan kesempatan untuk Malay ikut bertanding. Kami mempersiapkan segalanya di Jakarta, sampai akhirnya kami menang. Pesertanya termasuk dari negara Asia Pasifik seperti Jepang , Korea, dari hampir semua provinsi di China. Juga, Mongolia.
Bagaimana dukungan pemerintah?
Boleh dibilang tidak ada. Birokrasi yang sangat tidak bersahabat, beban fiskal yang begitu besar, harus kami tanggung. Syukur, karena kami masih disponsori oleh Garuda Indonesia di Ghuan Zhou. Juga dibantu oleh bapak Tengku Burhanuddin.
Ketika kami mengajukan support, harus dengan tanda tangan mentri. Padahal, di bandara tertulis MISI KESENIAN INDONESIA BEBAS FISKAL. Surat dan dokumen kami lengkap. Seharusnya hal seperti ini diberi kemudahan. Toh, tidak merugikan negara, justru malah berkontribusi mengangkat nama negara kita di kancah kesenian internasional.
Mengapa The Malay berubah formasi?
Akhirnya sampai pada pertanyaan yang paling berat. The Malay diubah menjadi Tengku Ryo and The Malay, saya ambil referensi seperti Wayan Balawan dan Etnik Batuan. Konsepnya hampir sama hanya bedanya, ya, Melayu dan Bali. Semua ini kebijakan manajemen, The Malay tidak lagi harus terdiri dari musisi sebelumnya. Siapa saja boleh asalkan mau dan mampu, dan yang utama, peduli budaya Melayu.
Dengan formasi awal, sulit rasanya untuk terus berjalan dengan sekian banyak perbedaan visi dan tujuan. Saya pikir lebih baik “go public” saja. Sekarang, sudah ada orkestra di dalam The Malay, penari dan para teknisi IT.
“Journey to Deli” bercerita tentang apa?
“Journey to Deli” adalah sebuah perjalanan mencari jati diri. Kemana pun saya pergi, saya tetap Melayu. Setinggi apa pun ilmu, status sosial, karir, pergaulan atau yang lainnya tidak bisa merubah siapa dan dari mana saya berasal, saya selalu memiliki kerinduan untuk pulang ke tanah kelahiran saya.
Sebenarnya, lagu itu saya buat tidak dengan pakem tradisi Melayu, tetapi siapa pun yang mendengar pasti tahu, itu musik Melayu. Aransemennya dipadu, misalnya, beatnya lebih ke irama latin samba, intronya folk ballad lewat gitar akustik dan bodhran (perkusi Irlandia), penggunaan strings ala Strauss. Dan reff yang terasa ngedangdut dan ada spirit of Indianya.
Journey to (harusnya Journey From karena saya dari Deli dan merantau ke luar). Artinya, kalau sudah merantau jauh mencari ilmu, hendaknya kita pulang dan membangun daerah kita. “Jadi pak Cik, mak Cik kalaulah sudah sukses di rantau, baleklah… Janganlah pula lupe kampong kite nie…”
Bagaimana keterlibatan Viky Sianipar dalam lagu ini?
Viky Sianipar bisa menterjemahkan secara teknis aransemennya. Pertama kali saya mainkan lagu ini, Viky sangat tertarik dan langsung membuat aransmen dasar dengan gitar. Kami sempat berdebat tentang hitungan tempo di bagian bridge. Memang agak ganjil, tapi akhirnya menjadi keunikan tersendiri. Akhirnya, Viky meminta lagu ini untuk jadi salah satu single di album “Indonesia Beauty”.
Cerita, dong, soal “Hitam Putih World Music Festival” di Riau kemarin?
Sangat berkesan. Tampil juga saat itu bang Irwansyah Harahap, yang menghadirkan musik indah dan bermakna. Ada juga dari Malaysia, Singapura dan Thailand, selain dari lokal: Geliga. Semuanya mantap!
Saya perform dengan tim yang minim, tapi partisipasinya yang lebih penting. Sambutannya baik walaupun ada beberapa masalah sound system, tapi itu biasa. Saya sendiri tidak puas dengan perform saya saat itu. Tapi, anak-anak muda di sana sangat antusias kepada musik saya. Sampai hari ini mereka masih suka memberi apresiasi lewat e-mail dan telepon.
Ada rencana perform di Medan?
Februari 2009 depan mungkin akan ada event lumayan gede di Medan. Kami sudah dikontak untuk tampil, tapi masih tentatif. Kalau sudah konfirm, pasti dikabari. Oya, undangan ke Mexico masih kami pikirkan. Manajemen The Malay sedang mengupayakannya. Mudah-mudahan tidak ada kendala, karena menyangkut biaya yang tidak sedikit.*
Foto-foto: Dok/Pribadi.
Dapatkan artikel ini dalam format cetak di tabloid Medan Weekly, edisi Jumat 12 – 19 Desember ini. Tersedia di toko-toko buku dan majalah Medan
KORAN SEPUTAR INDONESIA
Berharap “Kecik”Kembalikan Kejayaan Musik Melayu